"Memang baik menjadi orang PENTING, tapi jauh lebih penting menjadi orang BAIK". Begitulah ungkapan menarik yang selalu Saya nikmati dalam salah satu acara TV yang dipandu oleh Kang Ebet, belasan tahun silam. Karena ungkapan itu selalu meluncur di awal dan akhir acara, sangat mungkin ia kehilangan makna dan kekuatan bagi para pemirsa. Jika benar demikian, sayang sekali memang. Sebab, ia mengandung makna yang sangat dalam bagi kemanusiaan kita. Sebegitukah ? Entahlah. Mungkin setiap orang akan berbeda dalam memaknainya. Namun kali ini dan di sini, Saya ingin bertutur sedikit tentang ungkapan itu. Semoga tidak "tenggelam" menjadi sekedar basa basi.Dalam persfektif Saya : menjadi orang PENTING itu bisa bersandarkan atas macae-macem entitas-substantif nilai. Bisa nilai yang baik, bisa juga yang buruk. Jika boleh Saya simplifikasikan : bisa yang Humanis atau sebaliknya Unhumanis. Lihatlah eksistensi orang-orang penting di sekeliling kita. Apakah mereka itu Artis, Politisi, pejabat, Pengusaha, "Ustadz" (dan sejenisnya dalam berbagai agama) atau bahkan Penguasa. Saya pikir, Anda lebih mengerti ketimbang Saya, berpijak pada entitas-nilai yang kek apa mereka berdiri. Namun tidak demikian untuk menjadi orang BAIK. Apa dan bagaimana pun eksistensi mereka, untuk sampai pada predikat itu, tentu orang disekitarnya akan melihat mereka dengan satu kacamata umum : bahwa mereka (HARUS) berdiri pada pijakan nilai-nilai yang BAIK, berpikir secara BAIK, bersikap secara BAIK, dan akhirnya memberi kontribusi yang BAIK pula kepada masayarakat di sekelilingnya, semaksimal mungkin yang ia bisa. Begitu singkat ceritanya kira-kira.
Sahabats,
Ternyata dengan logika sesederhana itulah, Kang Ebet ingin mengajak kita untuk memilih penggalan frase kedua dari ungkapannya. Mari kita lebih memilih menjadi orang BAIK dari pada sekedar menjadi orang PENTING.
Bravo...!
BM.
===



